Lalu aku dan kamu saling mendakwa, padahal tak ada satupun
dari kita yang berprofesi jaksa. Bahkan tak ada satupun dari kita yang mengerti
hukum perdata ataupun pidana. Tapi kita saling menuntut, menghakimi, lalu
masing-masing kemudian menyuruh meringkuk di penjara.
Mungkin kita perlu bertemu hakim bestari di ujung jalan
sana, sekedar meminta nasihat bijak meredam murka angkara. Kita tak akan
memintanya menentukan siapa diantara kita yang salah, yang pasti kita coba
untuk saling redam marah.
Aku menuduh, kamu pun begitu. Aku punya fakta, dan kamu pun
begitu. Kita bawa perkara, lebih tepatnya luka.
Jikalau saling melukai, sudahlah tak perlu perkara di
perbaharui. Maunya begitu, tak kuat asa menahan hati koyak berdarah nanah.
Aku sudah sesak, dan mungkin juga kau muak. Kita sudah
berserah, tapi mungkin tidak saling merendah.
Sepertinya yang benar, kita sendiri yang menjebloskan diri
ke penjara. Satu ruang sempit pengap diantara rela dan tidak, antara melepaskan
dan menahan, ataupun menyuruh pergi dan saling menanti.
Entahlah, mungkin juga tak ada yang benar semuanya, yang
pasti ruang sepi pengap itu makin sesak oleh tuduh yang saling bertabuh rusuh.
Baiklah, mungkin kita bisa mengurut dari kilas jalan yang
telah terlewati, mari kita sedikit saja saling membuka pandora yang tersimpan
di sudut hati. Atau mungkin kita bisa tanyai saksi ahli yang mengerti praktik –
kaidah ilmu – dan teori dari jejak silam layaknya peninggalan sejarah yang
menyesap diantara merah darah. Berlomba usul saling menyusul. Tapi ternyata sudah
terlalu gelap berkabut kalut.
Aku menapaki jalan lain setelah kau memaksa lagi untuk
pergi. Berkali, setelah kau seolah kembali, tapi kemudian memunggungi (lagi). Aku berjuang menyebrang sungai ke suatu
negeri. Berpura aku tak kenal kau lagi. Bersikap aku seolah telah mati dan
wujud ini adalah reinkarnasi yang tak pernah kenal kau meski sekali. Tapi kau
memaksa aku lagi memanggilmu untuk setiap interaksi, kau tau, kau baru saja
meningkahi sakit yang dulu juga telah terpatri. Entah apa, aku tak mengerti mau
mu lagi. Mungkin kau mau terus sakiti sampai aku mati perlahan tapi pasti...