Cari Blog Ini

Sabtu, 30 Juni 2012

Dakwaan Mati


Lalu aku dan kamu saling mendakwa, padahal tak ada satupun dari kita yang berprofesi jaksa. Bahkan tak ada satupun dari kita yang mengerti hukum perdata ataupun pidana. Tapi kita saling menuntut, menghakimi, lalu masing-masing kemudian menyuruh meringkuk di penjara.
Mungkin kita perlu bertemu hakim bestari di ujung jalan sana, sekedar meminta nasihat bijak meredam murka angkara. Kita tak akan memintanya menentukan siapa diantara kita yang salah, yang pasti kita coba untuk saling redam marah.

Aku menuduh, kamu pun begitu. Aku punya fakta, dan kamu pun begitu. Kita bawa perkara, lebih tepatnya luka.
Jikalau saling melukai, sudahlah tak perlu perkara di perbaharui. Maunya begitu, tak kuat asa menahan hati koyak berdarah nanah.
Aku sudah sesak, dan mungkin juga kau muak. Kita sudah berserah, tapi mungkin tidak saling merendah.

Sepertinya yang benar, kita sendiri yang menjebloskan diri ke penjara. Satu ruang sempit pengap diantara rela dan tidak, antara melepaskan dan menahan, ataupun menyuruh pergi dan saling menanti.
Entahlah, mungkin juga tak ada yang benar semuanya, yang pasti ruang sepi pengap itu makin sesak oleh tuduh yang saling bertabuh rusuh.

Baiklah, mungkin kita bisa mengurut dari kilas jalan yang telah terlewati, mari kita sedikit saja saling membuka pandora yang tersimpan di sudut hati. Atau mungkin kita bisa tanyai saksi ahli yang mengerti praktik – kaidah ilmu – dan teori dari jejak silam layaknya peninggalan sejarah yang menyesap diantara merah darah. Berlomba usul saling menyusul. Tapi ternyata sudah terlalu gelap berkabut kalut.

Aku menapaki jalan lain setelah kau memaksa lagi untuk pergi. Berkali, setelah kau seolah kembali, tapi kemudian memunggungi (lagi).  Aku berjuang menyebrang sungai ke suatu negeri. Berpura aku tak kenal kau lagi. Bersikap aku seolah telah mati dan wujud ini adalah reinkarnasi yang tak pernah kenal kau meski sekali. Tapi kau memaksa aku lagi memanggilmu untuk setiap interaksi, kau tau, kau baru saja meningkahi sakit yang dulu juga telah terpatri. Entah apa, aku tak mengerti mau mu lagi. Mungkin kau mau terus sakiti sampai aku mati perlahan tapi pasti...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar