Ini
adalah gerimis kesekiaan di minggu ini. Memang sangat tidak ada istimewanya,
teramat biasa untuk kota hujan seperti ini.
Gerimis kecil yang tak ada apa-apanya dibanding deras hujan hari lalu yang
dilengkapi dengan gelegar guntur dan kilatan cahaya yang membelah langit di
atas sana. Gerimis kali ini pun tak lama, sepertinya hanya ingin bersapa dan
dengan senja yang mengarak malam.
Bercengkrama,
menggelitiknya..bukan mengusik. Sekedar menunjukkan rasa… Sungguh inilah
romantisme yang tak terkatakan. Tak perlu berucap, tapi tak mendangkalkan makna
dalamnya, . Elegan, dan tidak gombal.
Dan
inilah wangi tanah yang terhidang, ramuan ideal dari gerimis bercmpur debu dan
pertikel tanah. Wangi nya sedikit manis, tajam tapi tidak menyesakkan.
Sore
makin turun. Sore ini pun tidak seseram sore kemarin yang gelap . Sore ini
justru menyerupa sore yang hangat dengan lembayung menguar cahaya kuning setelah
gerimis kecil tadi berlalu. Meninggalkan
titik air dan suasana lembab yang justru menghangat.
Semu
memang..mngkin tak ada sebenarnya, tapi terasa..hadir tanpa mewujud.
Menyerupa…ya..bgitu saja aku katakan.
Kata
dan sebutan menjadi tidak penting,, hanya rasa dan kemudian logika memainkan
peran. Sudahlah..tak perlu melankolis, toh hidup memang terlalu keras untuk di
melankoliskan. Terlalu getir untuk diratapi,, namun tetap saja terlalu berarti
untuk sekedar dilewatkan tanpa manfaat bgitu saja.
Biarkan
mengalir saja, toh bukankah semua sudah dituliskan? Meski begitu, tetap saja
ada usaha, manifestasi sebagai makhluk yang dititipi nyawa oleh Sang Maha
Segalanya..
Hidup
ini paradox, tidak mutlak hitam atau putih.
Tidak mutlak benar atau salah,, didalamnya justru berisi banyak
alternative. Bukankah sepuluh saja bisa didapat dr enam+lima-satu? Atau mungkin
duabelas-dua, atau bahkan lima+lima andaikan ingin terlihat imbang. Ya, hanya
TERLIHAT IMBANG,karena bukankah kita
tidak tahu bahwa arti “lima” untuk satu dan lainnya adalah sama.
To Be Continued…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar